BAB 2
SIFAT-SIFAT ALLAH SWT
A.
SIFAT-SIFAT WAJIB, MUSTAHIL DAN JAIZ ALLAH SWT
Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama dan menjadi
dasar rukun-rukun iman yang lain. Iman kepada Allah adalah mempercayai dan
meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT itu ada dan memiliki sifat
keagungan, kemuliaan, serta kesempurnaan. Orang yang beriman akan membenarkan
dengan seyakin-yakinnya akan ke-Esaan Allah, meyakini bahwa Allah mempunyai
sifat-sifat dengan segala sifat kesempurnaan dan tidak memiliki sifat
ketidaksempurnaan atau menyerupai dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh
makhliknya.
Perbedaan antara
sifat-sifat Allah dengan sifat makhluknya adalah bahwa makna yang dimaksud
mengenai sifat Allah berbeda dengan makna sifat itu sendiri bagi sifat sifat
makhluk. Misalnya Allah memiliki sifat “Melihat” berbeda dengan melihatnya
manusia atau makhluk lainnya. Penglihatan Allah yang tidak ada batasnya dan
tidak berkesudahan sedangkan penglihatan manusia sangat terbatas.
SIFAT
WAJIB
|
SIFAT
MUSTAHIL
|
SIFAT
JAIZ
|
Nafsiyah
1.
Wujud
Salbiyah
1.
Qidam
2.
Baqa’
3.
Mukhalafatuhu
lil hawadits
4.
Qiyamuhu
binafsihi
5.
Wahdaniyah
Ma’ani
1.
Qudrat
2.
Iradat
3.
Ilmu
4.
Hayat
5.
Sama’
6.
Basar
7.
Kalam
Ma’nawiyah
1.
Qadiran
2.
Muridan
3.
‘aliman
4.
Hayyan
5.
Sami’an
6.
Bashiran
7.
mutakaliman
|
1.
adam
2.
huduts
3.
fana’
4.
mumatsalatuhu
lil hawadits
5.
ihtiyajuhu
lighairihi
6.
ta’adud
7.
ajzun
8.
karahah
9.
jahlun
10. mautun
11. shamamun
12. ‘umyun
13. Bukmun
14. Ajizan
15. Karihah
16. Jahilan
17. Mayyitan
18. Ashamma
19. ‘a’ma
20. Abkam
|
Fi’lu
kulli mumkinin awtarkuhu
|
Setelah mengamati skema pembagian sifat-sifat Allah tersebut
tentunya akan semakin lebih tahu dan faham tentang sifat-sifat bagi Allah SWT
B.
SIFAT WAJIB BAGI ALLAH SWT
1.
Pengertian sifat wajib
Sifat wajib
Allah adalah sifat yang harus ada pada zat Allah sebagai kesempurnaan bagi-Nya.
Allah adalah Al-Khaliq, zat yang memiliki sifat yang tidak sama dengan sifat
yang dimiliki oleh penciptaNya.
Zat Allah tidak
bisa dibayangkan bagaimana bentuk, rupa, cirri-cirinya, sifat-sifaNya, dan
tidak bisa disamakan dengan sifat-sifat makhlukNya.
Menurut para
Ulama ilmu kalam sifat-sifat wajib bagi Allah SWT terdiri atas 20 sifat. Dari
20 sifat itu dikelompokkan menjadi 4 kelompok sebagai berikut:
a.
Sifat nafsiyah, yaitu sifat yang berhuybungan dengan zat Allah SWT.
Sifat ini ada
satu yaitu wujud
b.
Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang meniadakan adanya sifat
sebaliknya, yakni sifat-sifat yang tidak sama, tidak layak dngan kesempurnaan
zatNya.
Sifat Salbiyah
ini ada lima, yaitu:
·
Qidam
·
Baqa’
·
Mukhalafatuhu lil hawadits
·
Qiyamuhu binafsihi
·
Wahdaniyah
c.
Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat Abstrak yang wajib ada Allah SWT.
yang termasuk sifat Ma’ani ada tujuh, yaitu:
·
Qudrat
·
Iradat
·
Ilmu
·
Hayat
·
Sama’
·
Bashar
·
Kalam
d.
Sifat Ma’nawiyah, yaitu kelaziman dari sifat Ma’ani. Sifat
Ma’nawiyah tidak dapat cberdiri sendiri, sebab setiap ada sifat ma’ani tentu
ada sifat Ma’nawiyah. Jumlah sifat Ma’nawiyah sama dengan jumlah sifat Ma’ani,
yaitu:
·
Qaadiran
·
Muriidan
·
‘Aliman
·
Hayyan
·
Sami’an
·
Bashiran
·
Mutakaliman
2.
Klasifikasi sifat wajib
Menurut para ahli ilmu kalam
sifat-sifat yang wajib dimiliki oleh Allah dan wajib kita ketahui jumlahnya ada
20 sifat. Sifat wajib Allah tersebut dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok,
yaitu sebagai berikut:
a.
Sifat Nafsiyah
Sifat Nafsiyah ini ada satu, yaitu
wujud artinya ada. Maksudnya adanya Allah itu bukan karena ada yang
menciptakan, tetapi ada dengan sendirinya. Jadi wujud Allah itu wajib, dan kita
wajib meyakininya.
Pada hakekatnya keyakinan terhadap
Allah bagi manusia itu sudah terjadi ketika manusia itu sudah terjadi. Ketika
manusia itu dilahirkan. Sejak dilahirkan manusia membutuhkan perlindungan atau
pertolongan yang sifatnya mutlak. Keccendrungan mencari perlindungan ini
disebut “Religius Instict” atau insting keagamaan.
Zat Allah adalah suatu yang ghaib
akal manusia tidak mampu memikir dan mencari hakekat zat Allah.
Bukti-bukti adanya Allah antara
lain:
·
Hakekat manusia sebagai makhluk yang bertuhan
·
Kejadian alam semesta. Adanya ala mini pasti ada yang mengadakannya
yaitu zat yang Maha Pencipta.
·
Adanya nabi dan rasul. Wali dan rasul manusia pilihan yang diutus
oleh Allah kepada umatnya. Jadi yang mengutus nabi dan rasul adalah Allah.
·
Kejadian manusia. Lewat kejadian manusia terbukti manusaia
diciptakan oleh zat Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT.
b.
Sifat Salbiyah
Sifat-sifat
yang harus ada, dan hanya secara mutlak dimiliki oleh Allah sebagai bukti
kesempurnaan Allah SWT. Sifat Salbiyah ini ada lima, yaitu:
1.
Qidam artinya dahulu.
Maksudnya bahwa
Allah itu terdahulu dan tidak didahulukan oleh sesuatu. Jika Allah itu ada
permulaannya, berate ada yang menciptakanNya. Jika Allah itu ada yang
menciptakan berarti Allah itu “Huduts” (baru) sama dengan makhluk, hal ini
tidak mungkin. Firman Allah
3.
Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui
segala sesuatu. (QS al-Hadid: 3)
2.
Baqa’ artinya kekal
Allah tidak mengalami perubahan
wujud zatNya sedikitpun, tidak akan seperti yang dialami selainnya, rusak dan
hilang. Karena Allah adalah zat yang menciptakan dan memelihara serta mengatur
alam dan segala isinya, maka Allah wajib kekal (Abadi) selamanya. Firman Allah:
‘@ä. >äóÓx« î7Ï9$yd žwÎ) ¼çmygô_ur 4 ÇÑÑÈ
Artinya:
“tiap-tiap sesuatu pasti
binasa, kecuali Allah. (QS. Al Qoshosh : 88)
3.
Mukhalafatuhu lil Hawadits artinya berbeda dengan semua makhluk.
Banyak sudah
hasil karya yang telah dicptakan oleh manusia, dari barang yang sederhana
sampai barang-barang yang rumit. Misalkan dari alat transportasi yang ditarik
kuda, sampai kepada mobil mewah, dari perkakas yang sederhana sampai robot yang
dapat dipropaganda dan di perintahkan untuk mengerjakan sesuatu. Semua hasil
karya manusia itu tidak ada satu yang menyerupai dengan pembuatnya, yakni
manusia.
Dari cotoh diatas, akal sehat kita
tentu meyakini bahwa tidak mungkin Allah Yang Maha Pencipta sama dengan makhluk
ciptaanNya, baik zatnya maupun sifatNya.
}§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäï†x« ( uqèdur ßìŠÏJ¡¡9$# çŽÅÁt7ø9$# ÇÊÊÈ
tidak ada sesuatupun
yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.
)QS. Asy syura 11(
4.
Qiyamuhu binafsihi
Artinya berdiri
dengan sendirinya. Maksudnya bahwa Allah tidak membutuhkan bantuan apapun dan
dari siapapun sebagaimana firman Allah:
QS AL FATHIR 15
Allah adalah
zat yang maha pencipta, dan adanya Allah dengan sendiriNya, maka tidak mungkin Allah
membutuhkan yang lain karena jika Allah membutuhkan yang lain karena jika Allah
membutuhkan yang lain berarti Allah adalah sesuatu yang baru dan akan mengalami
kerusakan.
5.
Wahdaniyah artinya Maha Esa
Pernahkah kamu
melihat dalam sebuah bus memiliki dua supir?tentu, kalau memang ada terjadi
tidak akan menambah semakin lancar dan aman lajunya sebuah bus, malah akan
semakin susah, karena pasti masing-masing sopir punya keinginan yang
berbeda-beda. Hal ini akan meimbulkan bahaya berupa kecelakaan dalam perjalanan.
Demikian juga
dalam alam semesta, tidak mungkin ada dua Tuhan. Sebab jika ada bisa
dibayangkan apa yang terjadi jika Tuhan yang satu sudah menciptakan bumi ini
bulat, tapi Tuhan yang lain menginginkan bumi segi empat. Tentu akan terjadi
malapetakan dahsyat raya ini. Allah berfirman:
QS AL ANBIYA’
22
Jadi bagi orang
yang berakal sehat tentu menerima bahwa Allah itu hanya satu, Maha Esa, baik
sifat-sifatnya, zatNya ataupun perbuatannya.
c.
Sifat Ma’ani
Sifat ma’ani
ialah sifat wajib Allah SWT. Yang dapat digambarkan oleh akal pikiran manusia
dan dapat meyakinkan orang lain karena kebenarannya dapat dibuktikan dengan
pancaindra. Sifat wajib Allah SWT. Yang tergolong dalam sifat ma’ani ialah
qudrah, iradah, ‘ilmu, hayat, sama’, bashar, dan kalam.
a.
Qudrah
Allah SWT.
Bersifat qudrah berati maha kuasa. Mustahil Allah SWT. Bersifat ‘ajzun yang
beratilemah atau tidak berdaya.
Kekuasaan Allah
SWT. Dapat dibuktikan dengan adanya alam semesta yang masing-masing mempunyai
aturan tertentu dan berbeda antar yang satu dan lainnya. Sejak manusia mengenal
alam sampai sekarang, semua isi alam berjalan dengan aturan masing-masing,
sesuai kekuasaan Allah SWT. Tidak satu pun makhluk yang dapat mengatur alam
semesta ini. Allah SWT berfirman sebagai berikut.
QS al an’am 18
b.
Iradah
Allah SWT.
Bersifat iradah yang berati berkehendak, mustahil bersifat karahan yang berati
dipaksa.sesuatu yang dipaksa berati di bawah kekuasaan yang memaksa dan selalu
diatur olehnya. Ini berarti sesuatu yang dipaksa adalah yang lemah, tidak lagi
bebas berbuat dan harus mengikuti kehendak yang mengatur. Allah SWT. Adalah zat
yang mengatur segala-galanya karena Dialah yang berkuasa dan memiliki alam ini.
Seandainya
Allah SWT. Tidak berkehendak, niscaya tidak ada alam semesta ini. Kenyataannya
alam ini ada. Dengan demikian, pasti Allah SWT. Bersifat iradah, bukan karahah.
Allah SWT. Bersifat iradah, bukan karahah. Allah SWT. Berfirman sebagai
berikut.
QS. An nahl 40
c.
‘ilmu
‘ilmu berati
mengetahui segala sesuatu. Lawan katanya adal jahlun yang berati bodoh. Allah
SWT. Mengetahui segala sesuatu, baik yang telah, sedang, maupun yang akan
terjadi. Allah SWT. Mengetahui segala sesuatu yang ada dalam hati, baik yang
rahasia maupun terang-terangan. Jika dibandingkan dengan ilmu. Allah SWT.ilmu
manusia tidak lebih dari setitik air di tengah samudra yang meluas. Oleh karena
itu, orang yang beriman itu harus senantiasa mencari ilmu dan mengembangkannya
kebaikan umat manusia . Allah SWT. Berfirman sebagai berikut.
QS al hujarat
18
d. Hayat
Hayat berarti
hidup, sedangkan kebalikannya adalah mautun yang berati mati. Allah SWT. Adalah
zat yang hidup dan mustahil mati. Akan tetapi, sifat hidup Allah SWT. Tidak
sama dengan hidup semua makhluk sebab hidup Allah SWT. Iu sempurna dan kekal.
Alam semesta
ini pasti pasti diciptakan oleh zat yang hidup. Sesuatu yang mati pasti tidak
akan mampu menciptakan sesuatu. Allah SWT. Berfirman sebagai berikut.
QS al furqan 58
e. Sama’
Sama’ berarti
mendengar, sedangkan kebalikannya adalah summun yang berani tuli. Allah SWT.
Maha mendengar segala macam bunyi dan suara makhluk, balik yang keras maupun
yang pelan. Sebaliknya, Allah SWT. Mustahil bersifat tuli. Oleh karena itu,
orang yang beriman tidak akan merasa khawatir doa dan permohonannya tidak
bisikan di dalam hati pun Allah SWT. Pasti mendengarnya. Allah SWT. Berfirman
sebagai berikut.
QS. Al Baqarah
127
f. Basar
Basar berarti
melihat segala sesuatu, baik yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi.
Penglihatan Allah SWT. Tidak dibatasi oleh alat dan waktu. Kebalikannya adalah
‘umyun yang berati buta. Apabila Allah SWT. Buta, tentu Dia akan memiliki
kekurangan dan sama dengan makhlukNya. Oleh karena itu, mustahil Allah SWT
bersifat ‘umyun. Semua makhluk dan benda yang ada di alam ini tidak bisa lepas dari penglihatan Allah SWT. Allah
SWT. Berfirman sebagai berikut.
QS. Al hujarat
18
g. Kalam
Kalam berati
berbicara, sedangkan kebalikannya adalah bukmun yang berati bisu. Karena Allah
SWT berbicara. Dia dapat berfirman, memberi janji, dan peringatan yang
ditunjukkan kepada makhlukNya. Firman-firmanNya tersusun dengan rapi di dalam
kitab suci yang diturunkan kepada rasul-rasulNya . Hal itu menunjukkan bahwa
Allah SWT. Tidak mungkin bersifat bisu. Allah SWT berfirman sebagai berikut.
QS An nisa 164
d. Sifat Ma’nawiyah
Sifat
ma’nawiyah ialah sifat-sifat yang berhubungan dengan sifat ma’ani atau
merupakan kelanjutan sifat-sifat ma’ani. Dengan kata lain, adanya tujuh sifat
ma’ani berarti ada tujuh sifat ma’nawiyah. Ketujuh sifat ma’nawiyah dimaksud
adalah sebagai berikut.
a. Qadiran (Maha Kuasa)
Allah SWT
bersifat qadiran yang berarti Dia Maha Kuasa, Allah SWT. Berfirman sebagai
berikut.
QS. Al-An’am 37
b. Muridan (Maha Berkehendak)
Allah SWT
bersifat muridan yang berarti Dia Maha Berkehendak. Allah SWT berfirman sebagai
berikut.
QS. An-Nisa’ 26
c. ‘Aliman (Maha Mengetahui)
Allah SWT
bersifat “aliman yang berarti Dia Maha Mengetahui. Allah SWT berfirman sebagai
berikut.
QS. Al-Hujurat 16
d. Hayyan (Maha Hidup)
Allah SWT
bersifat hayyan yang berarti Dia Maha Hidup. Allah SWT. Berfirman sebagai
berikut.
QS. Al imran 2
e. Sami’an (Maha Mendengar)
Allah SWT
bersifat sami’an yang berarti Dia Maha Mendengar. Allah SWT berfirman sebagai berikut.
QS. An Nisa’
134
Manusia tidak
hanya mengharapkan pahala di dunia, tetapi juga pahala di akhirat. Allah Maha
Mendengar permohonan hambaNya walaupun permohonan tersebut hanya dalam hati.
f. Basiran (Maha Melihat)
Allah SWT
bersifat basiran yang berarti Dia Maha Melihat. Allah SWT. Berfirman sebagai
berikut.
QS. Al-Isra’ 17
Sesuai dengan
dengan sifat keagunganNya, peglihatan Allah SWT mutlak, tidak terbatas yang
wujud saja, tetapi juga yang tidak wujud dan yang zahir maupun yang batin.
g. Mutakaliman (Maha Berbicara)
Allah SWT
bersifat mutakalimat yang berarti Dia Maha Berbicara. Allah SWT berfirman
sebagai berikut.
QS. At-Taubah 6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar